Dari Ruang Pemimpin hingga Layar Kaca: Misi Melanggengkan Marwah Budaya Kuansing
Mendedah Langkah di Bumi Pacu
Bismillah…
Setiap helai kenangan selalu menyimpan cerita tentang kesabaran dan keikhlasan. Hari itu, di bawah naungan langit Jum’at yang sarat berkah, langkah kaki kami menapak mantap menuju pusat pimpinan negeri Kantor Bupati Kuantan Singingi.
Bersama sahabat seperjuangan di Tim Kreatif dan Promosi Budaya, Pak Surfani, SE, kami membawa seberkas amanah mulia: mengabadikan suara dan ajakan Pemimpin Nomor Satu Kuansing untuk menggaungkan warisan leluhur ke persada nusantara.
(Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJ KEN 2026 Rapat Bersama Asisten 2 Setda Kuansing)
Festival Pacu Jalur sebuah perhelatan sakral berpaut Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 bukan sekadar pesta rakyat di tepian riak Batang Kuantan. Ia adalah urat nadi kebudayaan, kebanggaan yang telah mengakar dalam dada setiap putra-putri Kuantan Singingi.
Ujian Kesabaran dan Suara Sang Pemimpin
Perjalanan membawa amanah tak selamanya mulus tanpa jeda. Sambungan koordinasi dari Ketua Panitia, Pak Andi Cahyadi (Bang Aheng), menjadi pembuka jalan untuk proses rekaman bersama Plt. Bupati
Namun, kesabaran kembali diuji ketika waktu bergulir lembut selama hampir empat jam. Di balik pintu kerja Plt. Bupati Kuansing, H. Mukhlisin, riuh diskusi dan tumpukan tamu menyita waktu beliau.
Kayuah Membangun Negeri: Mengukir Jejak Budaya di Era Digitalisasi
Seusai menunaikan kewajiban Shalat Jum’at, taufik jua yang mempertemukan kami. Tepat pukul 13.30 WIB, pintu ruangan hangat itu terbuka. Dalam durasi 15 menit yang begitu berharga, lensa kamera kami merekam sosok beliau dalam balutan busana adat Melayu yang anggun dan berwibawa.
Dengan jemari tertangkup penuh ketulusan, sang pemimpin menyapa:
"Saya PLT Bupati Kuantan Singingi, H. Mukhlisin, mengajak seluruh masyarakat Provinsi Riau maupun yang berada di luar Provinsi Riau untuk menyaksikan Event Nasional Pacu Jalur Tahun 2026 yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 sampai 23 Agustus 2026 di Tepian Narosa, Teluk Kuantan... Mari sukseskan Pacu Jalur sebagai kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi. Kedepankan sportivitas, keamanan, dan kenyamanan masyarakat. Salam Kayuh, Kayuh, Kayuh!"
Getaran nada bicaranya menyimpan kehangatan seorang ayah negeri yang merangkul segenap jiwa untuk kembali pulang memeriahkan helat budaya.
Walau ada sedikit dinamika visual pada rekaman, estetika dan keotentikannya tetap memancar kuat siap menerobos sekat-sekat digital menuju panggung media sosial hingga FYP dan tular ke penjuru dunia.
Link Tiktok Promosi Pacu Jalur oleh Plt. Bupati Kuansing: https://vt.tiktok.com/ZSq4aEGoS/
Menjalani Amanah Tanpa Keraguan
Amanah ini bukan sekadar lembar kertas Surat Keputusan (SK) berisi belasan nama. Dari formasi yang ada, hanya separuh jiwa yang benar-benar berdiri di garis depan pergerakan.
Namun, semangat kami tak pernah luntur. Jalan sunyi ini kami tempuh dengan keyakinan bahwa karya yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan takdir indahnya.
Di penghujung sesi perekaman, sebuah potret kebersamaan terukir. Berdiri sejajar bersama Plt. Bupati H. Mukhlisin menjadi rekam jejak digital yang manis sebuah penanda bahwa kami pernah mengeringkan peluh demi kejayaan budaya negeri sendiri.
Untaian Doa dan Dedikasi
Setiap lelah yang menetes di jalan kebudayaan ini, kelak semoga terbayar menjadi Lillah. Besar harapan kami agar dedikasi, loyalitas, serta keringat rekan-rekan Tim Kreatif dan Promosi Budaya mendapat apresiasi yang layak dari Panitia FPJ KEN 2026 sebuah penghargaan atas kerja keras yang tak kenal waktu.(Terima Kasih Rekan Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJ KEN 2026 yang sudah berkolaborasi Menduniakan Budaya Pacu Jalur)
Terima kasih mendalam kami haturkan kepada Pak Plt. Bupati H. Mukhlisin, Panitia FPJ KEN 2026, serta seluruh sahabat yang telah menitipkan kepercayaan ini.
Sebagai penutup, biarlah kalimat ini terus bergema dalam relung kalbu:
"Bukan tentang apa yang kita dapatkan dari negeri, melainkan tentang dedikasi apa yang sanggup kita persembahkan untuk membangun negeri."
Jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah lelah berkarya. Teruslah merawat kebudayaan, hingga Sang Maha Pencipta memanggil kita untuk pulang.
Salam Kreatif!
Salam Budaya!
Salam Kayuah, Kayuah, Kayuah!
Fastabiqul Khoirot. Jazakumullah Khairan Katsiran, Barakallah Fiik.
Refleksi Budaya Oleh: H. Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Ketua Tim Kreatif & Promosi Budaya FPJ KEN 2026, Ketua Forum Literasi Kuansing, Sekretaris Info & Komunikasi MUI Kuansing, Ketua LSB PD Muhammadiyah Kuansing, Guru Penulis 5 Negara ASEAN PERUAS, Guru Konten Kreator Riau)
Bukan Sekedar Pesona Fana: Menjaga Lisan dan Hati demi Memancarkan Aura Positif
Ronaldo Rozalino
Bismillah. Pernahkah engkau bertemu dengan seseorang yang baru saja engkau kenal beberapa saat, namun hatimu mendadak merasa asing dengan rasa cemas?
Ada ketenangan yang merayap perlahan, seolah-olah lelahmu dibasuh tanpa sepatah kata pun pujian yang berlebihan.
Ia tidak berparas paling jelita atau paling tampan, tidak pula menjadi sosok yang paling bising mendominasi ruangan. Namun, cara ia membawa dirinya memancarkan sebuah daya pikat yang tak kasatmata sebuah aura yang indah.
Aura yang baik bukanlah sekadar tentang pesona fisik yang fana atau riasan busana. Ia adalah pantulan energi jiwa, kelembutan sikap, dan bagaimana cara seseorang memuliakan sesamanya.
Dalam kacamata Islam, aura positif ini tiada lain adalah pantulan dari pencahayaan iman dan kesucian hati (Thaharatul Qalb).
Rasulullah SAW pernah bersabda tentang indahnya jiwa yang memancar ini:
“Maukah kalian aku beritahukan tentang orang yang diharamkan dari neraka? Yaitu setiap orang yang dekat (dengan manusia), lembut, halus, dan mempermudah (urusan).”
(HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Mari kita selami lima ciri keindahan jiwa yang melahirkan aura nan menawan ini:
1. Kehadiran yang Menenangkan: Mengalir bagai Oase di Padang Pasir
Orang yang memiliki aura bagus membuat siapa saja merasa nyaman di dekatnya. Saat berada di sampingnya, engkau tidak perlu mengenakan topeng atau berpura-pura menjadi orang lain.
Ia tidak sibuk menghakimi, tidak memelihara rasa paling benar. Kehadirannya tidak bising, namun cukup untuk membuat suasana yang sesak menjadi lapang.
Islam mengajarkan bahwa kelapangan hati untuk mendengarkan dan menerima sesama adalah buah dari rahmat Allah SWT.
Allah berfirman:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu...”
(QS. Ali 'Imran: 159)
2. Memuliakan Tanpa Pernah Merendahkan
Ia tidak memerlukan kehancuran orang lain untuk membangun singgasana kehebatannya sendiri.
Ia paham betul bahwa setiap insan sedang mengarungi samudera ujiannya masing-masing. Maka, ia memilih untuk merangkul dan menghargai, bukan memandang rendah.
Semakin tinggi kualitas jiwa seseorang, semakin pupus pula keinginannya untuk menjatuhkan sesama.
Ia meyakini sabda Nabi SAW:
“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat apabila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
(HR. Muslim)
3. Tutur Kata yang Menjadi Penawar dan Penghormatan
Lidahnya terawat oleh kesadaran. Ia tahu kapan harus merajut canda dan kapan harus menjaga kedalaman perasaan.
Ia tak pernah menjadikan celakanya orang lain sebagai bahan gelak tawa, tidak pula asal berucap demi terlihat bijaksana.
Sebab ia sadar, satu kalimat mampu menerbitkan senyum bahagia yang bertahan selamanya, namun satu kalimat yang salah juga bisa menyisakan luka menganga berbilang tahun.
Allah SWT mengingatkan dalam kitab-Nya:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)...’”
(QS. Al-Isra': 53)
Serta Rasulullah SAW yang senantiasa berpesan:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Ketenangan yang Tumbuh dari Kedalaman Jiwa
Aura positif bukan berarti ia hidup tanpa badai. Ia pun pernah disapa kecewa, pernah menampung duka, dan pernah meneteskan air mata di balik pintu yang terkunci.
Namun, ia belajar untuk tidak menyiramkan pahitnya luka pribadi kepada dunia di luarnya. Ada ketenangan anggun (sakinah) yang menyelimutinya, membuat orang lain merasa aman berteduh di sisinya.
Ketenangan ini lahir dari prasangka baiknya kepada Takdir (Husnudzon).
Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
5. Anggun Tanpa Dahaga Validasi
Inilah puncak kedewasaan sebuah jiwa: ia tidak terobsesi untuk disukai oleh semua mata. Ia memahami bahwa ketulusan tidak membutuhkan sorak-sorai penonton.
Ia tidak mengubah warna kepribadiannya hanya demi diterima oleh lingkungan. Ia tetap bersikap manis namun memiliki garis batas; tetap ramah namun tak membiarkan dirinya diinjak-injak.
Ia hanya mencari ridha dari Sang Pencipta, bukan validasi dari makhluk yang serba terbatas.
Rasulullah SAW mengingatkan kita:
“Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah meskipun manusia murka, maka Allah akan cukuptkan dia dari beban manusia...”
(HR. Tirmidzi)
Merawat Cahaya yang Sebenarnya
Ada wajah yang biasa saja, namun ketika ia melangkah masuk, ruangan terasa terang benderang oleh kedamaian.
Ada pula penampilan yang sangat memukau mata, namun baru sejenak bersamanya, jiwa merasa tandus dan lelah.
Mengapa demikian? Sebab, daya tarik sejati bukanlah apa yang ditangkap oleh retina mata, melainkan apa yang dirasakan oleh relung hati.
Aura yang indah tidak dapat direkayasa.
Ia adalah buah yang tumbuh alami dari:
Hati yang bersih (Qalbun Salim)
Pikiran yang sehat
Lisan yang terjaga
Sikap yang saling memuliakan
Aura yang bagus tidak menuntutmu menjadi sempurna. Aura yang bagus adalah ketika kehadiranmu tidak membuat orang lain merasa kecil. Ketika ucapanmu tidak sengaja mematahkan harapan.
Ketika sikapmu menyemaikan ketenangan. Dan ketika engkau melangkah pergi… orang-orang menengadahkan tangan, merasa bersyukur pernah menatap senyummu dan mengenal jejak langkahmu.
Sebab pada akhirnya, orang mungkin akan lupa pada pakaian indah yang engkau kenakan hari ini, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana hatinya merasa hangat dan dihargai saat berada di sampingmu.
Jadilah sosok yang ketika hadir membawa kedamaian, dan ketika berpulang, meninggalkan keharuman nama yang abadi.
Jejak Edukasi Berkah: Dari Ketulusan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuansing hingga Harmoni di SMAN 1 Sentajo Raya
Bismillah. Ketika sang surya menyibak tirai pagi di bumi Kuantan Singingi, langkah-langkah kaki melangkah mantap memenuhi panggilan amanah.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 (SRT 1) Kabupaten Kuansing, bendera merah putih berkibar anggun di bawah langit yang teduh. Upacara bendera pagi itu menjadi saksi kesetiaan para pendidik dan anak didik dalam merajut mimpi bangsa.
Menyemai Ikhtiar di Tanah Amanah: Merajut Keberkahan Edukasi dari Kuantan Singingi
Menjadi bagian dari perjuangan ini sebagai Guru Tamu Sekolah Rakyat yang diamanahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau dan Kementrian Sosial RI adalah sebuah kehormatan yang dibalut rasa syukur tak terhingga.
Amanah bukanlah sekadar gelar atau lembar SK, melainkan tanggung jawab besar di hadapan Sang Maha Pencipta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan murni dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menuntun Minat, Memuliakan Jiwa di SRT 1
Dua minggu belakangan ini, ruang-ruang kelas SRT 1 diwarnai dengan kegiatan matrikulasi minat dan bakat Seni Budaya (SRMA) dan beberapa mata pelajaran lainnya.
Sebuah ruang eksplorasi di mana potensi generasi muda diasah dengan penuh kasih dan perhatian:
Senin: Kelas X.C (07.30 – 09.30 WIB)
Selasa: Kelas X.B (09.30 – 12.00 WIB)
Rabu: Kelas X.D (07.30 – 09.30 WIB) & Kelas X.E (09.30 – 12.00 WIB)
Di sekolah ini, terdengar riak semangat melalui semboyan yang menghujam ke sanubari:
“SRT 1: Muliakan Orang Tua, Hormati Guru. SRT 1: Kayuah... Kayuah... Kayuah!”
Semboyan ini membawa pesan mendalam bahwa keberkahan ilmu tak akan pernah tercapai tanpa keridaan orang tua dan rasa hormat kepada guru.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya...” (QS. Al-Isra' [17]: 23)
Menjelajah Harmoni Modernitas di SMAN 1 Sentajo Raya
Mentari kian meninggi, menandai bergantinya waktu. Pukul 13.00 WIB, pengabdian berlanjut menuju SMAN 1 Sentajo Raya, Provinsi Riau. Di ruang kelas XII.3, susunan bangku diubah, menciptakan lingkar-lingkar diskusi yang hangat dan dinamis.
Materi Genre Musik Modern menjadi jembatan bagi para siswa untuk menyelami sejarah, rasa, dan struktur seni yang terus berkembang.
Melalui pendekatan Deep Learning yang memadukan keheningan kesadaran (Mindful), kedalaman makna (Meaningful), dan keriangan belajar (Joyful) ruang kelas menjelma menjadi taman ideation yang hidup.
Siswa diajak mengekspresikan buah pikirannya secara berkelompok, mengasah keberanian public speaking, dan merajut kolaborasi yang harmonis.
Langkah ini sejalan dengan tuntunan Allah SWT untuk senantiasa bermusyawarah dan bekerja sama dalam kebaikan:
“...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran...” (QS. Al-Ma'idath [5]: 2)
Lisan yang Menabur Kebaikan
Hari ini ditutup dengan keharuan dan rasa syukur yang membuncah. Allah Maha Baik. Setiap detik yang dilalui adalah anugerah, dan setiap tutur kata yang terucap adalah doa.
Maka, tugas seorang pendidik adalah terus memperbaiki lisannya agar setiap kata yang keluar menjadi ilmu yang bermanfaat dan penyejuk jiwa.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga dan memanfaat lisan untuk kebaikan:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga ikhtiar kecil ini tercatat sebagai amal jariyah yang membawa kebaikan serta keberkahan melimpah, tidak hanya bagi generasi muda di Riau, tetapi juga bagi masa depan peradaban. Barakallah Fiik.
Refleksi dan buah pikiran :
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
*Guru Tamu SRMA Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kuantan Singingi
*Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya Provinsi Riau
*Guru SMA Taruna Muhammadiyah Riau
#gurutamusrt #siswasrt #sekolahrakyat #kemensos #upacarabenderasenin #gurupembelajar #gurusenibudaya #gurukontenkreatorriau
Ziyadul Kamal; Bukan Sekadar seremonial, Mengukir Jiwa Pembelajar, Karakter dan Disiplin di SRT 1 Kuansing
Senin pagi, 14 September 2026. Udara sejuk Koto Kari, Kuantan Tengah, perlahan menyapa dengan kehangatan lembut.
Di bawah bentangan langit yang meretas fajar, tanah merah lapangan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kuantan Singingi bertukar cerita dengan langkah-langkah kaki generasi muda. Dari jenjang SRSD, SRMP, hingga SRMA, barisan berdiri tegap.
Upacara bendera pagi itu bukanlah sekadar ritual seremonial yang berlalu dihantam angin. Di balik kibaran Sang Saka Merah Putih, tersemat sebentuk cinta yang mendalam pada tanah air sebuah denyut nadi kebangsaan yang diikat oleh kesadaran dan cita-cita.
Petuah Bijak dari Sang Pembina
Berdiri di hadapan barisan santun para siswa dan pendidik, Pembina Upacara yang juga Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kab. Kuansing, Ziyadul Kamal, S.Pd.I., M.A., mengalirkan amanah yang menyejukkan sekaligus membakar semangat:
"Upacara ini bukan sekadar seremonial, namun bagian dari rasa cinta kita kepada tanah air..."
Memasuki minggu kedua masa matrikulasi, ruang-ruang kelas dipanggil untuk menjadi saksi perjuangan. Tidak ada tempat bagi rasa malas; yang ada hanyalah gelora untuk merajut kesuksesan.
Di tempat ini, hidup diajarkan secara utuh. Mulai dari terpejamnya mata pada pukul 10 malam untuk menjaga stamina tubuh, hingga ketukan langkah saat terbangun di pagi hari.semuanya adalah simfoni disiplin yang merajut kesuksesan masa depan.
Bagi mereka yang tengah diuji dengan rasa sakit yang ringan, terselip pesan agar pantang menyerah dan tak cengeng, seraya doa terus dipanjatkan agar kesehatan segera kembali menyapa.
Pijak Pertama Angkatan Perintis
Secara khusus, tatapan dan harapan tertuju kepada ananda siswa-siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).
Selama tiga tahun menempuh proses di tanah perintis ini, keberadaan angkatan pertama adalah mercusuar. Langkah dan keteladanan abang dan kakak SRMA menjadi penuntun bagi adik-adik di tingkatan SRSD dan SRMP.
Tiga pilar karakter teguh pun ditegaskan untuk menjaga kesucian lingkungan belajar ini:
Bebas Perundungan (Bullying): Menegakkan pesan Menteri Sosial, tiada tempat bagi perundungan dalam bentuk apa pun.
Tanpa Kekerasan Fizikal: Menjaga persaudaraan tanpa gesekan dan luka fisik.
Merawat Toleransi: Mengikis intimidasi dan perbedaan, karena di mana pun asal-usul kita, kita dipersatukan dalam kebhinekaan yang harmonis.
Sebuah semangat kebersamaan pun turut digelorakan untuk merestui langkah para ksatria sekolah yang akan berlaga pada Kejuraan Kabupaten (Kejurkab) Pencak Silat tingkat Kuantan Singingi.
Doa terbaik membumbung, berharap ukiran prestasi terbaik mengharumkan nama SRT.
Menutup Harapan dengan Harmoni
Jiwa dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kuansing terangkum indah dalam senandung niat dan semboyan:
"SRT: Sayangi Orang Tua, Hormati Guru."
"SRT 1: Kayuah... Kayuah...!"
Seusai amanah yang memantik bara semangat itu mengangkasa, langkah kaki para Guru Tamu dan siswa kembali memasuki ruang-ruang kelas.
Pembelajaran matrikulasi dilanjutkan dengan pengayaan materi yang mendalam, menenun ilmu demi masa depan yang gilang-gemilang.
Sebab di balik setiap proses yang berkualitas, ada jiwa-jiwa yang tak lelah bergandengan tangan, mengayuh bahtera pendidikan menuju tingkat kejayaan.
Ditulis Oleh: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Guru Tamu SRMA Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kab. Kuansing / Guru ASN SMAN 1 Sentajo Raya, Riau)
My Bisnis Online & Offline (BP Grup)
Best Friend
Bisnis Online Succes (BOS)
-
ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) - ANISA SKIN CARE ( KOSMETIK HERBAL, AMAN, DAN BEBAS MERKURI ) [image: Cream Annisa Ok] Harga RP.150.000,- (Belum Ongkos Kirim) DAPATKAN kulit muka yang...14 tahun yang lalu
-
