Welcome My Blog

Coach RR

Jangan Hanya Bekerja untuk Uang: Meraih Kebebasan Finansial Berbasis Syariah

Bismillah. Bekerja adalah langkah awal yang mulia untuk membangun masa depan dan menafkahi keluarga.

Namun, jika seluruh waktu dan penghasilan kita hanya habis untuk kebutuhan sehari-hari tanpa ada arah pengembangan aset, kita akan terus berada dalam siklus bekerja selamanya demi uang.

Pesan yang sangat menginspirasi dari penulis:
"Gunakan pekerjaanmu untuk membiayai bisnismu, sampai bisnismu bisa membiayai kebebasanmu."

Islam sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk tidak menjadi pribadi yang berpangku tangan atau bergantung pada orang lain. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mengambil tali kemudian pergi membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, lalu ia menjualnya sehingga Allah mencukupi kebutuhan hidupnya dengan cara itu, itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberinya atau menolaknya." (HR. Bukhari)

Hadis di atas menunjukkan betapa mulianya ikhtiar mandiri, produktif, dan membangun kemandirian ekonomi.

Agar ikhtiar kita tidak hanya berhenti pada rutinitas kerja harian, mari terapkan 5 langkah strategis menuju kebebasan finansial yang diselaraskan dengan nilai-nilai Islam:

1️⃣ Kelola Penghasilan dengan Bijak
Mengatur keuangan adalah bagian dari amanah. Al-Qur'an telah memberikan panduan agung dalam mengelola harta agar tidak boros namun juga tidak bakhil.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Furqan ayat 67:
"Dan termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar."

Sisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan dan modal usaha sesuai kemampuan. Perencanaan keuangan yang baik akan menyelamatkan kita dari kesulitan di masa depan.

2️⃣ Mulai dari yang Kecil
Jangan menunggu kaya raya untuk memulai sebuah usaha. Mulailah dari apa yang kita miliki saat ini. Semangat berwirausaha telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang gigih merintis perniagaan dari bawah dengan jujur dan amanah.

3️⃣ Terus Belajar (Ilmu Bisnis dan Keuangan)
Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Sebelum terjun dalam dunia bisnis atau pengelolaan aset, bekali diri dengan ilmu pemasaran, manajemen keuangan, serta pemahaman tentang muamalah yang syar'i agar setiap langkah mendatangkan berkah.

4️⃣ Bangun Penghasilan Tambahan
Memiliki satu sumber pemasukan saja terkadang memiliki risiko yang tinggi. Dengan memanfaatkan waktu luang, keterampilan, dan teknologi digital saat ini, kita bisa membuka peluang sumber penghasilan tambahan yang halal dan produktif.

5️⃣ Konsisten, Sabar, dan Tawakal
Kesuksesan, baik di dunia maupun akhirat, membutuhkan proses, strategi, serta ketekunan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 200:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siap (di perbatasan negeri) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

Ingatlah bahwa tujuan kita bekerja keras hari ini bukan sekadar mencari penat, melainkan membangun masa depan yang lebih mandiri agar kita memiliki keleluasaan waktu dan tenaga untuk beribadah serta berbagi kebaikan kepada sesama.

Semoga setiap langkah kecil yang kamu mulai hari ini menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih berkah dan sejahtera esok hari.

💎 Ingin mulai membangun penghasilan tambahan yang produktif? Tulis "SAYA SIAP MELANGKAH " di kolom komentar!


SALAM MENTAL KAYA (SMK) 

Ronaldo Rozalino - Coach RR




READ MORE - Jangan Hanya Bekerja untuk Uang: Meraih Kebebasan Finansial Berbasis Syariah
Coach RR

Jangan Rusak Hatimu: Ketika Keberadaanmu Tidak Dianggap Penting oleh Sesama

Bismillah. Pernahkah Anda berada di posisi di mana merasa tidak dicari, tidak disapa, atau diabaikan oleh orang-orang di sekitar?

Rasanya pasti menyesakkan dada. Pikiran-pikiran negatif mulai berkecamuk, membuat kita merasa seolah-olah diri ini tidak penting dan bukan siapa-siapa.

Padahal, pelajaran paling mahal hari ini adalah: jangan rusak hatimu sendiri hanya karena orang lain tidak menganggapmu penting.

Seperti pesan inspiratif ini: tidak dicari bukan berarti kita tidak penting, dan tidak disapa bukan berarti kita bukan siapa-siapa.

Nilai seorang hamba di hadapan Allah SWT sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa sering orang lain menyapa atau memedulikannya, melainkan dari tulusnya niat dalam setiap langkah dan perbuatan.

Memahami Nilai Diri di Hadapan Sang Pencipta
Sebagai manusia, wajar jika kita memiliki kebutuhan untuk dihargai dan diakui.

Namun, menggantungkan kebahagiaan dan harga diri pada penilaian manusia adalah jalan cepat menuju kekecewaan.

Manusia tempatnya lupa, penilainya subjektif, dan pandangannya sering kali dipengaruhi oleh hawa nafsu atau kepentingan sesaat.

Dalam pandangan Islam, standar kemuliaan seseorang bukanlah seberapa populer ia di bumi, atau seberapa banyak orang yang mencarinya setiap hari. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan mutlak hanya milik mereka yang bertakwa. Jika hari ini Anda merasa diabaikan oleh manusia, ingatlah bahwa Allah tidak pernah, sedetik pun, melupakan hamba-Nya yang tulus.

Pandangan Rasulullah SAW tentang Penilaian Manusia
Rasulullah SAW juga pernah menghadapi masa-masa sulit ketika dakwah dan keberadaannya tidak diindahkan oleh sebagian kaumnya.

Beliau mengajarkan kita untuk tidak terlalu pusing dengan penilaian makhluk, melainkan fokus memperbaiki hubungan dengan Sang Khaliq.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian." (HR. Muslim)

Hadis di atas menjadi penguat bahwa hati yang bersih dan niat yang tulus karena Allah adalah segalanya.

Jika orang lain tidak menganggapmu penting, itu adalah urusan mereka. Tugas kita bukanlah memaksa semua orang untuk menyukai kita karena itu hal yang mustahil melainkan tetap berbuat baik dan menjaga keikhlasan hati.

Jangan Biarkan Hatimu Rusak
Merasa kecil hati karena diabaikan lama-kelamaan bisa merusak kedamaian jiwa kita sendiri.

Ingatlah prinsip-prinsip berharga ini:
Tidak Semua Orang Harus Suka dengan Kita: Sadarilah bahwa ketidaksukaan atau sikap acuh tak acuh orang lain terhadap kita adalah hal yang di luar kendali kita.

Fokus pada Niat: Selama niat kita lurus karena Allah dalam bekerja, mengajar atau berbuat kebaikan, maka penilaian manusia tidak akan menjatuhkan derajat kita di sisi Allah.

Validasi Diri Datangnya dari Allah: Jangan biarkan validasi sosial menentukan kebahagiaan hidup Anda.

Bagi para guru hebat dan siapa saja yang sedang membaca tulisan ini hingga tuntas, jika saat ini Anda sedang berada di fase lelah karena merasa tidak dipedulikan, tarik napas dalam-dalam dan yakinkan diri bahwa Anda berharga.

Jika Anda sedang berada di fase ini, mari kuatkan diri bersama. Tuliskan "AKU TANGGUH DAN BERMENTAL BAJA" di kolom komentar sebagai bentuk komitmen bahwa Anda memilih untuk menjaga hati tetap tangguh, tulus, dan bahagia karena Allah SWT!

SALAM GROWTH MINDSET (SGM)
Ronaldo Rozalino - Coach RR

(Motivator Literation & Education, Writer, Teacherpreneur, Content Creator, Bisnis Owner Leader, Composser & Arranger, Coach) 

READ MORE - Jangan Rusak Hatimu: Ketika Keberadaanmu Tidak Dianggap Penting oleh Sesama
Coach RR

Semangat Berkemajuan: Lima Kader Muda SMA Taruna Muhammadiyah Riau Ambil Bagian dalam Peresmian SD IT Muhammadiyah Marsawa

TELUK KUANTAN, 30 Oktober 2026 – Dunia pendidikan Muhammadiyah kembali mencatatkan tonggak sejarah penting melalui peresmian SD IT Muhammadiyah Marsawa yang dilaksanakan pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Acara penuh khidmat ini tidak hanya dihadiri oleh para tokoh dan pimpinan persyarikatan, tetapi juga dimeriahkan oleh kehadiran istimewa dari lima orang siswa SMA Taruna Muhammadiyah Riau.


Mengenakan seragam ketarunaan yang gagah dan rapi, kelima siswa tersebut berdiri tegak mendampingi jalannya acara.

Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri serta mencerminkan nilai-nilai luhur berupa kedisiplinan, rasa tanggung jawab yang tinggi, jiwa kepemimpinan, dan kebanggaan mendalam sebagai kader muda Muhammadiyah.

Pendidikan Karakter Lewat Aksi Nyata
Partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan ini merupakan wujud nyata dari proses pendidikan karakter yang diterapkan di lingkungan SMA Taruna Muhammadiyah Riau.

Sebagaimana disadari bersama, pendidikan tidak hanya terbatas di dalam ruang kelas, melainkan turut ditempa melalui keterlibatan langsung di tengah masyarakat.


Semangat kebersamaan dan tolong-menolong dalam kebaikan ini sejalan dengan ajaran Islam yang tertuang di dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Ayat suci ini menegaskan betapa pentingnya membangun kolaborasi serta saling mendukung dalam setiap amal kebajikan, termasuk dalam memajukan lembaga pendidikan Islam dan syiar dakwah.


Menumbuhkan Jiwa Pengabdian Sejak Dini
Kepala SMA Taruna Muhammadiyah Riau, Dr. H. Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd, menyampaikan apresiasi dan pandangannya terkait keterlibatan para peserta didik dalam agenda penting persyarikatan ini.

Menurut beliau, keterlibatan siswa secara langsung memberikan pengalaman berharga yang efektif untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi Muhammadiyah.


Selain itu, kegiatan ini juga berfungsi memperkuat semangat pengabdian demi kemajuan dunia pendidikan di masa depan.

Semangat menuntut ilmu, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menebar manfaat selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruqutni. Dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami' āēļಂāē–್āēŊ : 3289)


Melalui momentum peresmian SD IT Muhammadiyah Marsawa, diharapkan lahir langkah baru yang strategis untuk memperluas jangkauan dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Sekolah ini diproyeksikan mampu mencetak generasi Islam yang cerdas secara intelektual, berakhlak mulia, mandiri, serta berprestasi gemilang. (Coach RR)

SMA Taruna Muhammadiyah Riau: Mendidik dengan Disiplin, Membentuk Jiwa Kepemimpinan, dan Melahirkan Generasi Unggul.

READ MORE - Semangat Berkemajuan: Lima Kader Muda SMA Taruna Muhammadiyah Riau Ambil Bagian dalam Peresmian SD IT Muhammadiyah Marsawa
Coach RR

Manisnya Silaturahmi: Menikmati Es Tebu di Kota Teluk Kuantan dalam Geliat Rezeki dan Kenangan

Bismillah. Waktu berjalan tanpa terasa, membawa angin nostalgia dari masa-masa seragam putih abu-abu.

Hari Sabtu diisi dengan langkah kaki yang menepi pada sebuah rida persahabatan, menyapa hangatnya Kota Teluk Kuantan di bawah naungan takdir Allah SWT.


Di tepi jalanan kota yang teduh, sebuah gerobak sederhana milik seorang sahabat karib masa sekolah di SMKN 1 Teluk Kuantan menjadi saksi bisu pertemuan yang sarat makna.


(Harmoni Persahabatan dan Simfoni Karya: Menjejak Jejak ARDEN BAND

https://ronaldorozalino.blogspot.com/2026/10/harmoni-persahabatan-dan-simfoni-karya.html ) 


Sahabat lama itu bernama Carles Bronson, atau yang akrab disapa BREE. Dulu, di balik dentuman musik dan ritme jiwa muda, ia adalah seorang vokalis band berkarakter dengan suara rocker yang dahsyat di ARDEN BAND.

Kini, di tempat yang sama, di atas peluh usahanya yang gigih merajut hari depan, ia menyuguhkan tetes demi tetes es tebu segar yang manisnya berpadu dengan ketulusan persaudaraan.

Epos Ketulusan Usaha dan Keringat Halal
"Sekecil apapun usahamu, kamu adalah bosnya." — Bob Sadino

Filosofi hidup dari pengusaha ulung tersebut menemukan wujud nyatanya pada sosok Carles Bronson.



Sekitar 24 tahun sudah lembaran ijazah sekolah menengah terlipat rapi, namun ikatan ukhuwah tak pernah lekang oleh jarak maupun waktu.

Dalam kesederhanaan usahanya berjualan es tebu, terpancar sebuah kemandirian yang mulia.

Rasulullah SAW dan para nabi pun banyak yang mendedikasikan hidupnya melalui kerja keras tangan sendiri. Semangat ini sejalan dengan tuntunan sabda Nabi Muhammad SAW mengenai luasnya pintu-pintu rezeki:

"Sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu berada dalam perdagangan (usaha dan bisnis)." (HR. Tirmidzi)

Usaha mandiri yang dijalankan dengan jujur bukan sekadar tentang mencari lembaran rupiah, melainkan sebuah bentuk ibadah ikhtiar untuk menjemput keberkahan.


Merajut Usia, Meluaskan Rezeki Lewat Silaturahmi
Pertemuan di bawah rindangnya pepohonan Teluk Kuantan ini bukan sekadar temu kangen biasa.

Ada nilai ilahiah yang terpatri kuat tatkala dua sahabat duduk bersisian, bertukar cerita tentang dinamika kehidupan sosial, kiat membangun komunikasi yang baik, serta mengenang petuah-petuah guru tercinta.


Masih lekat dalam ingatan pesan berharga dari Kepala Sekolah sekaligus motivator kala itu,

Pak Haji Suyanto:
"Jangan lihat siapa yang bicara, namun dengarkan apa yang dibicarakan."

Sebuah mutiara hikmah yang mengajarkan ketulusan berpikir obyektif, jauh dari rasa sombong.

Nilai-nilai luhur ini terangkum sempurna dalam janji Rasulullah SAW tentang keutamaan menyambung tali persaudaraan:

"Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambungkan silaturahmi."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Silaturahmi menyucikan hati, mendekatkan jiwa, dan membuka pintu-pintu keberkahan yang tak terduga dari Sang Pencipta.


Indahnya Merawat Ukhuwah
Pertemuan hari ini membuktikan bahwa kualitas manusia dinilai dari bagaimana ia memanusiakan sesamanya dengan sebaik-baik perlakuan.

Tanpa sekat kepentingan duniawi, tanpa pretensi apa pun, komunikasi terjalin murni dalam balutan nostalgia masa sekolah yang indah.

Semoga secangkir es tebu segar yang diteguk bersama hari ini, serta jalinan silaturahmi yang terus dirawat oleh para Konco Alumni SMKN 1 Teluk Kuantan, senantiasa mendatangkan ridha serta keberkahan dalam menjaga Agama Allah SWT.



Hangatnya Silaturahmi Bersama Kakak Kandung Iza di Tengah Manisnya Es Tebu Teluk Kuantan

Kehangatan hari Sabtu di Kota Teluk Kuantan ternyata masih menyimpan kejutan manis yang mempererat jalinan ukhuwah.

Di tengah kenikmatan meneguk es tebu segar racikan sahabat karib semasa sekolah, Carles Bronson alias BREE, takdir mempertemukan kembali dengan sosok yang tak kalah inspiratif.

Beliau adalah Kakak Kandung Konco saat kuliah dulu, Faizaturahmah, S.Sn yang akrab disapa Iza.

Beliau merupakan rekan sekampus di Jurusan Musik, Kampus Seni STSI Padangpanjang (yang kini dikenal sebagai ISI Padangpanjang), dengan mengambil Mayor Biola.

Pertemuan yang tak terduga ini seketika membawa ingatan kembali pada harmoni masa-masa kuliah yang penuh warna seni dan kreativitas.


Menyambung Hati, Merawat Persaudaraan Sesama Muslim

"Siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan luaskan rezekinya hendaknya memanjangkan silaturahmi." (Hadis Riwayat)

Pertemuan demi pertemuan yang terukir hari ini menegaskan bahwa silaturahmi memiliki dayaikat yang luar biasa. Melalui sapaan hangat, senyuman, dan perbincangan ringan di tepi jalanan Teluk Kuantan, terjalin sebuah ikatan batin yang kuat.

Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjaga persaudaraan, karena di dalam silaturahmi terdapat keberkahan usia dan kelapangan rezeki.

Tidak ada kepentingan duniawi yang rumit dalam pertemuan ini; yang ada hanyalah niat tulus untuk menjaga komunikasi, bernostalgia, serta mempererat tali persaudaraan sesama Muslim dalam ridha Allah SWT.

Abadikan Momen, Kekalkan Kenangan
Setiap jepretan kamera bukan sekadar merekam gambar, melainkan mengabadikan bukti nyata sebuah komitmen untuk terus merawat silaturahmi dan menjaga ukhuwah islamiyah.

Semoga kebersamaan bersama sahabat lama dan keluarga besar sesama akademisi seni ini mendatangkan keberkahan yang berlimpah, serta menjadi pengingat bahwa nikmat terbesar dalam hidup adalah memiliki sahabat dan saudara yang senantiasa saling mendukung dalam kebaikan.

Salam Ukhuwah,
Konco Alumni 

READ MORE - Manisnya Silaturahmi: Menikmati Es Tebu di Kota Teluk Kuantan dalam Geliat Rezeki dan Kenangan
Coach RR

Posting Usaha Bukan Sombong: Tinjauan Personal Branding dalam Perspektif Islam

Pernahkah Anda scrolling Instagram atau TikTok, lalu melihat teman atau kenalan yang rajin sekali membagikan (posting) usaha, karya, atau pencapaian mereka?

Di dalam hati kecil mungkin sempat tebersit rasa, "Dih, pamer banget sih. Sombong amat!"
Tahan dulu!


Mari kita renungkan kembali ada garis batas yang sangat tegas antara kesombongan dan personal branding.

Punya usaha? Posting. 
Punya karya? Posting.
Punya skill? Posting.
Punya pengalaman? Posting.
Itu namanya Personal Branding, bukan sombong.
Kecuali jika kamu melihatnya dari sisi iri."



Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini? Apakah mempromosikan hasil kerja keras atau usaha sendiri termasuk perbuatan tercela yang dilarang?

1. Membedakan Niat: Antara Syukur, Dakwah, dan Pamer (Riya')
Dalam ajaran Islam, segala sesuatu dinilai dari niatnya. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang sangat terkenal:

"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan..." (HR. Bukhari dan Muslim).


Jika seseorang memposting usahanya dengan niat:

Menyebarkan manfaat dan memudahkan orang lain yang sedang mencari produk atau jasa tersebut.

Bentuk rasa syukur atas nikmat rezeki dan kemampuan yang telah Allah SWT berikan. Allah SWT berfirman dalam Surah Ad-Duha ayat 11:
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu siarkan (sebagai tanda syukur). (QS. Ad-Duha: 11).

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu siarkan (sebagai tanda syukur). (QS. Ad-Duha: 11).

Maka, aktivitas personal branding ini bukanlah kesombongan, melainkan bentuk ikhtiar profesional di era digital.


Sombong (takabbur) yang dilarang dalam Islam adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW:

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim).

Selama postingan tersebut tidak bertujuan untuk merendahkan orang lain atau merasa diri paling hebat, maka hal itu murni strategi komunikasi dan pemasaran.



2. Bahaya Penyakit Iri (Hasad)
Seringkali, tanggapan negatif seperti “sombong banget” muncul bukan karena orang lain benar-benar sombong, melainkan ada percikan rasa iri (hasad) di dalam hati pengamatnya.
Iri adalah penyakit hati yang berbahaya.

Rasulullah SAW memperingatkan umatnya:
"Jauhilah oleh kalian sifat dengki (iri), karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud).


Ketika seseorang sukses atau bersemangat mempromosikan usahanya, alih-alih merasa kesal atau berprasangka buruk, Islam mengajarkan kita untuk mendoakan kebaikan atau menjadikannya motivasi untuk bangkit.

Berhentilah menjadikan kata "sombong" sebagai tameng untuk menutupi rasa malas dalam membangun potensi diri sendiri.

3. Semangat Produktif dan Etos Kerja dalam Islam
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi etos kerja. Allah SWT memerintahkan hamba-hambanya untuk bekerja dan menunjukkan potensi terbaik mereka di muka bumi:

"Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu...'" (QS. At-Tawbah: 105).

Di era digital saat ini, menunjukkan hasil kerja atau skill ke publik (digital exposure) adalah bagian dari ikhtiar menjemput rezeki. Dunia berhak tahu potensi yang kita miliki agar manfaatnya bisa lebih luas.


Memiliki usaha, karya, atau keahlian lalu mempublikasikannya secara bijak bukanlah dosa dan bukan pula kesombongan, melainkan strategi profesional (personal branding).

Mari berbenah diri: jika melihat kesuksesan atau promosi orang lain, jadikan itu sebagai sinyal untuk ikut termotivasi, bukan malah dipandang dengan rasa iri.

Yuk, mulai melangkah, berkarya, dan tunjukkan versi terbaik dari usaha Anda tanpa ragu!



H.Ronaldo Rozalino, S.Sn.,M.Pd
(Coach RR - Teacherpreneur • Content Creator • Motivator  • Writer • Business Owner Leader • Composer & Arranger • Coach



Bisnis Owner Leader & Entrepreneur:

*Berkah Travel Perwakilan Kota Teluk Kuantan (Haji dan Umroh) 

*Vicella Drink & Food - VDF 

*British Propolis

*Madu Hutan Murni Madu Vicella Berlabel Halal Nasional 

*Penulis Puluhan Buku ISBN

*Toko Jembatan Merah Sejak 1983

Kontak Person: 085363554777

READ MORE - Posting Usaha Bukan Sombong: Tinjauan Personal Branding dalam Perspektif Islam
Coach RR

Menyelami Samudra Berkah di Hari Jumat: Pelukan Hangat Keluarga di Tengah Riuh Waktu

Bismillah. Hari Jumat bukanlah sekadar penggalan waktu penutup pekan; ia adalah gerbang cahaya, hari penuh kemuliaan (Sayyidul Ayyam), tempat di mana butir-butir rahmat ditumpahkan ke bumi tanpa henti.

Di balik keindahannya, Jumat sering kali datang di saat jiwa kita tengah "dihujani" oleh badai rutinitas deburan tugas yang tak pernah surut, target yang mengejar, dan lelah yang memagari raga.

Namun, di sanalah letak keindahan takdir. Di tengah kepenatan dunia, Allah subhanahu wa ta'ala menyediakan ruang bernama keluarga sebuah pelabuhan teduh tempat hati melabuhkan sandarannya.

Keluarga: Dermaga Abadi Saat Badai Kehidupan Menguji

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
(QS. Ar-Rum: 21)

Betapapun tinggi ambisi melangit, atau seberapa padat langkah kakimu mengejar dunia, keluarga tetaplah sebaik-baik tempat kembali.

Ketika hidup tidak berjalan dalam keadaannya yang "baik-baik saja" saat angin ujian bertiup kencang dan pundak terasa penat menanggung beban rumah dan orang-orang tercinta adalah selimut kedamaian yang menyembuhkan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan betapa mulianya seseorang yang senantiasa membawa kebaikan bagi keluarganya:

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku."
(HR. Tirmidzi)

Menyemai Syukur, Menjemput Keberkahan Bersama
Kehangatan yang tercipta saat berkumpul bersama keluarga bukanlah kebetulan yang hampa makna.

Ia adalah karunia dari Sang Pemilik Semesta. Mengapa?

Karena:
Allah Maha Baik, yang selalu menyelipkan kebahagiaan sederhana di balik lelahnya hari.

Allah Maha Segalanya, tempat kita bersandar ketika ikhtiar manusia menemui batasnya.

Allah Tempat Meminta, Dzat yang Maha Mendengar setiap doa yang dipanjatkan di sekeliling meja makan.

Allah Maha Besar, yang menggerakkan hati kita untuk tetap saling mencintai dan membersamai dalam ikatan iman.

Maka, luangkanlah waktu. Hentikan sejenak deru mesin kesibukan. Sambut malam yang mulia ini dengan senyuman terindah untuk orang-orang tersayang.

Makan malam yuk, gais! Mari eratkan ikatan, satukan rasa dalam syukur, dan nikmati hidangan penuh cinta bersama Family Vicella.

Semoga setiap suapan mendatangkan energi kebaikan, setiap tawa mempererat ukhuwah, dan setiap detik bersama keluarga bernilai ibadah di sisi-Nya.

Barakallahu fiikum, selamat menikmati hari Jumat yang penuh berkah!

READ MORE - Menyelami Samudra Berkah di Hari Jumat: Pelukan Hangat Keluarga di Tengah Riuh Waktu
Coach RR


Seni Menjaga Cahaya Diri: Keluar dari Lingkungan Toksik dengan Kepala Tegak dalam Perspektif Islam

Bismillah. Pernahkah Anda berada di suatu tempat, komunitas, atau lingkungan yang perlahan-lahan membuat semangat, energi, dan batin Anda terasa terkuras?

Di mana canda tawa terasa hambar, dan potensi terbaik Anda seolah diredupkan oleh energi negatif di sekitar?

Jika pernah, ketahuilah bahwa jangan pernah memaksa diri untuk tinggal di tempat yang membuat cahayamu meredup.

Pergi dengan kepala tegak bukanlah tanda kelemahan, melainkan kemenangan terbaik yang bisa Anda berikan untuk diri sendiri.

Memahami Batasan Diri dan Harga Diri (Self-Respect)
Dalam menjalani hidup, menjaga ketenangan batin dan harga diri adalah sebuah keharusan.

Ketika kita sengaja dijauhi atau berada di lingkungan yang tidak sehat (toxic), memaksakan diri untuk bertahan justru akan merusak kesehatan mental dan spiritual kita.

Islam sangat menghargai kemuliaan jiwa seorang mukmin. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menyukai hamba-Nya yang menghinakan diri atau berada di tempat yang menjerumuskan mereka ke dalam keburukan dan kesedihan yang mendalam.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 68:
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu setelah teringat (akan larangan itu)."

Ayat ini memberikan petunjuk jelas bahwa menjauhkan diri dari lingkungan yang buruk, toksik, atau tidak menghargai nilai-nilai kebaikan adalah bagian dari sikap menjaga diri yang bijak.

5 Sikap Elegan Saat Sengaja Dijauhi oleh Lingkunganmu
Ketika kita dihadapkan pada situasi di mana orang lain menjauh atau mengeluarkan kita dari lingkaran mereka, menghadapinya dengan kelas dan keanggunan jiwa adalah pilihan terbaik.

Berikut adalah penjabarannya:
1. Memilih Diam dan Membiarkan Waktu yang Menjelaskan Segalanya
Orang yang berkelas tidak merasa perlu membuang energi untuk membela diri atau berdebat panjang lebar. Cukup diam, karena waktu adalah penyaring terbaik yang akan membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam." (HR. Bukhari & Muslim).

2. Tidak Memohon untuk Diterima Kembali di Lingkaran yang Toksik
Harga diri (self-respect) melarang kita untuk mengemis pengakuan. Jika pintu mereka tertutup karena ketidaksukaan yang tidak beralasan, jangan ketuk pintu itu lagi.

Allah telah menyiapkan tempat dan orang-orang yang jauh lebih baik untuk membersamai langkah Anda.

3. Mengalihkan Fokus Sepenuhnya untuk Memperbaiki Kualitas Diri
Daripada meratapi penolakan, alihkan seluruh energi untuk bertumbuh. Belajar, berkarya, dan tingkatkan kapasitas diri. Kemenangan sejati adalah ketika Anda menjadi versi terbaik dari diri Anda.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

4. Tetap Bersikap Sopan Saat Tidak Sengaja Bertemu
Menjauh bukan berarti memutuskan tali silaturahmi dengan cara yang buruk atau menebar kebencian.

Tetaplah tersenyum dan bersikap sopan jika suatu saat berpapasan. Inilah ciri pribadi yang matang dan berakhlak mulia.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tetap berakhlak baik kepada siapa pun, sebagaimana sabda beliau:

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya, serta gaulilah manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi).

5. Menyadari Bahwa Kehilangan Mereka Adalah Bagian dari Proses Perbaikan Diri
Terkadang, dijauhkan oleh orang-orang yang salah adalah cara Allah menyelamatkan kita dari pengaruh buruk yang lebih besar.

Anggaplah ini sebagai seleksi alam yang menyaring lingkaran pertemanan menjadi lebih sehat dan positif.

Penutup: Pulang pada Ketenangan Batin
Pergi meninggalkan lingkungan yang meredupkan cahaya Anda bukan berarti kalah. Itu adalah cara Anda menyelamatkan iman, ketenangan batin, dan masa depan Anda.
Ingatlah selalu kata-kata bijak ini:

"Pergi dengan kepala tegak adalah kemenangan terbaik yang bisa kamu berikan untuk dirimu sendiri."

Apakah kamu pernah merasakannya? Mari terus melangkah dengan anggun, menjaga batasan diri, dan menjadi pribadi berkelas yang selalu berada dalam naungan ridha-Nya.

Penulis:
Ronaldo Rozalino - Coach RR
(Teacherpreneur, Writer, Motivator Literation & Education, Content Creator, Business Owner Leader, Composer & Arranger, Coach)

WhatsApp: 0853 - 6355 - 4777
Instagram / TikTok: @ronaldorozalino
YouTube / Facebook: Ronaldo Rozalino
Site: s.id/RonaldoRozalino

READ MORE - Seni Menjaga Cahaya Diri: Keluar dari Lingkungan Toksik dengan Kepala Tegak dalam Perspektif Islam
Coach RR

Langkah Nyata Menebar Pencerahan: Peresmian SDIT Muhammadiyah Marsawa Wujudkan Generasi Unggul dan Berkemajuan

Kuantan Singingi - Pendidikan adalah pilar utama dalam membangun peradaban bangsa yang bermartabat.

Semangat inilah yang terus dikobarkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah melalui ikhtiar nyata dalam mendirikan dan meresmikan amal usaha baru.

Bertempat di SDIT Muhammadiyah Marsawa, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), suasana penuh khidmat dan kebahagiaan menyelimuti rangkaian acara Peresmian SDIT Muhammadiyah Marsawa yang digelar pada Jum'at, 30 Oktober 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.


Semangat "Hari Bermuhammadiyah" dan Sinergi Membangun Umat
Kegiatan akbar yang mengusung tema :
"Bersama Mewujudkan Generasi Islami, Cerdas, Berakhlak Mulia dan Berprestasi" ini menjadi momentum penting bagi kemajuan dunia pendidikan di Kabupaten Kuansing.

Berdirinya SD IT Muhammadiyah Marsawa merupakan kelanjutan dan pengembangan dari TK ABA Aisyiyah Desa Marsawa yang telah lama dinantikan dan diidamkan oleh warga persyarikatan serta masyarakat setempat kata H. Maisir Ketua PD Muhammadiyah Kab. Kuansing

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
(QS. An-Nisa: 9)

Ayat suci di atas menjadi landasan teologis bahwa menyiapkan generasi masa depan yang kuat baik secara akidah, intelektual, maupun moral adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan.


H. Mukhlisin PLT.Bupati Kuansing mengatakan  keberhasilan Muhammadiyah dalam dunia pendidikan secara konsisten perlu diapresiasi setinggi tingginya, Lembaga pendidikan Muhammadiyah telah membantu program pemerintah dalam memperluas akses belajar dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Kemudian H.Muhklisin menyampaikan apresiasi dan terima kasih setinggi-tingginya atas kontribusi nyata Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya melalui pelayanan pendidikan berkualitas yang merata. 

Acara peresmian ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting daerah, di antaranya Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kuansing H. Mukhlisin, Ketua PD Muhammadiyah Kuansing Ir. H. Maisir, beserta jajaran Forkopimda, Forkopimcam, PDM, PCM, Organisasi Otonom (Ortom), Aisyiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah (NA).

Kehadiran para pimpinan dan unsur pemerintah ini menunjukkan sinergi yang kuat dalam mendukung peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Kuantan Singingi.



Visi Berkemajuan dan Dakwah Melalui Pendidikan
Pendidikan Islam berkemajuan yang digagas oleh Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada aspek ritual semata, melainkan juga memadukan ketakwaan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEKS). Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)



Melalui kehadiran SDIT Muhammadiyah Marsawa, diharapkan lahir generasi cerdas yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki akhlakul karimah sebagai wujud nyata dari tajdid (pembaruan) dan dakwah amar makruf nahi mungkar kata H. Maisir



Dokumentasi Kegiatan
Berikut adalah beberapa potret dokumentasi dari kemeriahan dan kekhidmatan acara peresmian:



Suasana Peresmian: Suasana khidmat saat rangkaian acara berlangsung di bawah tenda utama yang dihadiri oleh ratusan tamu undangan.


Sambutan Pimpinan: Plt. Bupati Kuansing, H. Mukhlisin, dan Ketua PD Muhammadiyah Kuansing, Ir. H. Maisir, saat menyampaikan pidato inspiratif di atas podium.


Kebersamaan Tokoh dan Pimpinan: Sesi foto bersama para pimpinan daerah, pengurus Muhammadiyah, serta tamu kehormatan yang hadir.



Sumber Informasi: Dimas Suprapto, M.Kom (Dikdasmen PD Muhammadiyah Kab. Kuansing)


Reportase: Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd (Ketua LSB PD Muhammadiyah Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing)

READ MORE - Langkah Nyata Menebar Pencerahan: Peresmian SDIT Muhammadiyah Marsawa Wujudkan Generasi Unggul dan Berkemajuan
Coach RR

Menjaga Batas Kebaikan: Tetap Rendah Hati Tanpa Kehilangan Harga Diri

Bismillah. Berbuat baik kepada sesama adalah sebuah kemuliaan. Setiap kebaikan yang kita tebarkan, sekecil apa pun itu, ibarat menanam benih yang kelak akan berbuah manis bagi kehidupan kita maupun orang lain.

Namun, ada satu jebakan halus yang sering kali luput dari kesadaran: keinginan yang teramat besar untuk selalu menyenangkan orang lain hingga membuat kita lupa bahwa diri sendiri juga memiliki hak untuk dihargai.

Apakah Anda pernah merasa lelah karena selalu menanggung beban orang lain?

Ataukah Anda sering mengalah meski harga diri Anda diinjak, demi menjaga perasaan orang lain?

Ingatlah, berbuat baik dan rendah hati tidak pernah menuntut kita untuk merendahkan martabat diri sendiri.

Islam mengajarkan keseimbangan yang indah antara akhlak mulia dan perlindungan terhadap kehormatan diri.

1. Kemuliaan Akhlak: Rendah Hati Bukan Berarti Rendah Diri
Islam sangat menjunjung tinggi sifat rendah hati (tadzawwuq atau ØŠŲˆØ§ØķØđ). Orang yang tawaduk adalah mereka yang hatinya lapang, tidak sombong, dan menghargai orang lain.

Namun, tawaduk bukanlah sikap membiarkan diri diperlakukan semena-mena.

Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan orang yang rendah hati karena Allah:

“Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Menjadi rendah hati di hadapan Allah dan sesama adalah tanda kebesaran jiwa.

Akan tetapi, Islam juga melarang seorang mukmin bersikap hina atau membiarkan dirinya direndahkan tanpa alasan yang benar.

Harga diri (izzah) adalah bagian dari kehormatan seorang Muslim yang harus dijaga.

2. Batas Tegas: Jangan Biarkan Kebaikan Dimanfaatkan
Kebaikan yang tulus tidak akan merusak jiwa pelakunya. Jika Anda terus-menerus mengorbankan batas diri (boundaries), menelan kekecewaan demi menghindari konflik, hingga mengikis harga diri Anda sendiri, maka itu bukan lagi kebaikan, melainkan bentuk pengabaian terhadap diri sendiri.

Dalam sebuah kaidah Islam, kita diajarkan untuk tidak mendatangkan mudarat (kerusakan/kerugian) bagi diri sendiri maupun orang lain:

“Tidak boleh ada mudarat dan tidak boleh pula memudaratkan (menimbulkan mudarat pada orang lain).” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Merusak ketenangan batin, mengorbankan kesehatan mental, dan membiarkan harga diri diinjak-injak demi menyenangkan pihak lain adalah bentuk memudaratkan diri sendiri.

Anda berhak untuk berkata "tidak" pada hal yang merugikan, dan Anda berhak untuk dihargai sebagaimana Anda menghargai orang lain.

3. Menjaga Izzah (Harga Diri) di Jalan Kebaikan
Seorang Muslim yang baik adalah mereka yang memegang teguh prinsip hidup: bermanfaat bagi sesama, namun tetap memiliki ketegasan moral dan kehormatan diri.

Al-Qur'an mengingatkan kita di mana kemuliaan yang sesungguhnya berada:


“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin...” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin memiliki izzah (kemuliaan dan harga diri) yang bersumber dari keimanannya.

Oleh karena itu, tetaplah tersenyum, tetaplah menebar manfaat, dan jadilah pribadi yang rendah hati.

Namun, berjalanlah dengan kepala tegak, karena harga diri Anda adalah anugerah yang harus dijaga dengan penuh kehormatan.

Refleksi Hari Ini
Berbuat baiklah seluas-luasnya, tetapi mulailah dengan berbuat baik kepada diri sendiri dengan cara tidak membiarkannya terluka.

Tetap rendah hati, tetap ulurkan tangan, tapi jangan pernah kehilangan harga diri Anda.

Oleh: Ronaldo Rozalino - Coach RR
(Teacherpreneur, Writer, Motivator Literation & Education)

READ MORE - Menjaga Batas Kebaikan: Tetap Rendah Hati Tanpa Kehilangan Harga Diri
Coach RR

Meniti Jalan Syukur dan Memetik Iktibar: Refleksi Shalat Jumat di Masjid Syuhada Beringin Taluk_Ustadz Djumharis, S.Fil.,MA

Bismillah. Di bawah naungan langit Kuantan Singingi yang tenang, tatkala sang surya tepat berada di titik puncaknya memancarkan kehangatan, langkah-langkah kaki penuh kerinduan berbondong-bondong memenuhi panggilan Ilahi.

Jumat, 30 Oktober 2026, Masjid Syuhada Beringin Taluk yang terletak di Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuansing, Riau, tampak khidmat dipadati oleh para jamaah yang ingin menunaikan kewajiban agung: Shalat Jumat berjamaah.

Suasana sakral kian terasa ketika Ustadz Djumharis, S.Fil., M.A., selaku Ketua MUI Kecamatan Sentajo Raya, naik ke mimbar untuk menyampaikan khutbah.

Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Taqiyuddin Ahmad. Kehadiran para tokoh agama ini tidak hanya menyejukkan hati, tetapi juga menyalakan kembali pelita iman di dada setiap insan yang hadir.


Menjaga Hati di Tengah Gelimang Nikmat
Dalam khutbah pertamanya, Ustadz Djumharis membuka lembaran nasihat dengan mengingatkan sebuah hakikat kehidupan yang sering kali melalaikan manusia.

Betapa banyak nikmat yang dilimpahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, namun tanpa disadari, nikmat tersebut justru berangsur-angsur menjadi jalan kehancuran bagi hamba yang lalai.

“Tatkala kita diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, nikmat itulah yang terkadang didorong oleh-Nya menjadi jalan kehancuran apabila tidak disikapi dengan rasa syukur dan ketakwaan.”

Peringatan ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an, di mana Dia mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam kelengahan duniawi:

“...Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An'am: 44)

Khatib berpesan kepada diri pribadi dan seluruh jamaah agar tidak pernah berhenti merawat kualitas keimanan.

Sering kali manusia merasa cukup dengan ibadah ritual yang dikerjakan seperti rajinnya langkah kaki menuju masjid, derma yang dikeluarkan, atau basahnya lisan dengan umrah dan haji namun lalai dari penjagaan hati yang dapat mengikis habis nilai pahala di hadapan-Nya.


Musibah sebagai Cermin dan Peringatan
Menghubungkan realitas zaman dengan Kalam Illahi, khutbah lantas membimbing pandangan jamaah pada surah Ad-Dukhan ayat 10:

“Maka nantikanlah hari ketika langit mendatangkan kabut yang tampak jelas.” (QS. Ad-Dukhan: 10)

Ustadz Djumharis menjelaskan bahwa berbagai ujian, bala, dan musibah yang hadir di muka bumi bukanlah bentuk kebencian mutlak Sang Pencipta, melainkan sebuah i'tibar (pelajaran) agar manusia kembali kepada jalan yang benar.

Hal ini dipertegas dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Kerusakan alam, memudarnya kepedulian sosial, serta hilangnya rasa aman adalah buah dari ulah manusia yang melampaui batas (wa kanu ya'tadu).

Namun, di tengah gelombang ujian tersebut, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan jaminan keselamatan bagi dua golongan utama: mereka yang senantiasa berpegang teguh pada tali agama Allah (hablum minallah) dan mereka yang menjaga keharmonisan hubungan sesama manusia (hablum minannas).


Penutup dan Doa yang Menyejukkan
Memasuki khutbah kedua, suasana semakin khusyuk tatkala dzikir, puji-pujian kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam, serta doa keselamatan dilantunkan.

Ayat suci kembali menggema mengingatkan firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 30:

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebahagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Melalui mimbar Jumat di Masjid Syuhada Beringin Taluk ini, umat Islam diingatkan untuk senantiasa memohon ampunan, mempererat persaudaraan, serta mengembalikan segala urusan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Semoga Jumat yang penuh berkah ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, merawat alam, dan menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dalam lindungan rahmat-Nya.


Artikel pengetahuan keislaman dan laporan khutbah Jumat ini ditulis dan didokumentasikan oleh:
Ronaldo Rozalino, S.Sn., M.Pd
(Sekretaris Info & Komunikasi MUI Kab. Kuansing, Ketua Forum Literasi Kuansing, Penulis 5 Negara ASEAN).

READ MORE - Meniti Jalan Syukur dan Memetik Iktibar: Refleksi Shalat Jumat di Masjid Syuhada Beringin Taluk_Ustadz Djumharis, S.Fil.,MA

My Facebook

Best Friend

Bisnis Online Succes (BOS)

Blog Profesional

BP Grup

BP Grup
British Propolis

Kontak Whats Up (WA)

Kontak Whats Up (WA)
085363554777